Rabu, 07 Januari 2015

Konsep Performa Kreativitas Kelompok 7 (How Talented People Show Off Their Talent) (Updated)

Anggota Kelompok
Mentari Purba (11-028)


Strategi 4P dalam Pengembangan Kreativitas, How Talented People Show Off Their Talent On Daily Routines ditinjau dari 4 aspek:

1. Pribadi
Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu yang ditunjukkan dalam interaksi dengan lingkungannya. Keunikan setiap individu mencerminkan orisinalitas dari pribadi-pribadi yang diharapkan dapat memacu untuk timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Keunikan yang berbeda pada masing-masing individu menimbulkan pemikiran yang berbeda-beda pula. Awalnya ketika kami berdiskusi, masing-masing dari anggota kelompok menyatakan pendapat dan ide mengenai topik apa yang akan kami pilih sebagai produk untuk kreativitas kami. Setelah disepakati akhirnya kami memilih ide dari salah seorang teman kami yang mengusulkan untuk membuat video tentang orang-orang berbakat yang ingin “pamer” dengan menunjukkan atau memasukkan bakat mereka ke kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan di kehidupan sehari-hari.

2. Pendorong (Press)
Bakat kreatif individu dipengaruhi oleh motivasi internal dan eksternal. Selain dari dalam diri individu tersebut dukungan dari lingkungan juga memberi pengaruh besar bagi individu dalam mengembangkan bakat-bakat kreatifnya. Tantangan yang kami dapat dalam mata kuliah kreativitas ini, yang tidak kami temukan pada mata kuliah lain memacu kami untuk menunjukkan performa terbaik yang kami miliki. Selain itu, Bu Dina dan teman-teman dalam mata kuliah ini secara tidak langsung juga memberikan dukungan bagi kami untuk menunjukkan keunikan yang kami miliki. Kami juga ingin mendapat nilai yang bagus dalam mata kuliah ini.

3. Proses
Pengembangan kreativitas individu sangan bergantung pada banyaknya kesempatan, stimulus, dan dukungan yang diberikan termasuk prasarana yang menunjang pengekspresian keunikan individu. Mata kuliah kreativitas ini memberikan kami kesempatan untuk menunjukkan keunikan yang kami miliki tanpa membatasi sehingga kami merasa “lepas” dan “bebas” dalam menjalani proses untuk menunjukkan performa terbaik yang kami miliki. Kami berusaha optimal dalam melakukan step by step untuk menghasilkan produk sesuai harapan kami. Dalam menjalani proses, waktu yang kami butuhkan sampai tahap akhir penyelesaian (editing) adalah 2 bulan 2 minggu.

4. Produk
Dengan dimilikinya bakat dan ciri-ciri pribadi kreatif, dan dengan dorongan (internal maupun eksternal) untuk bersibuk diri secara kreatif, maka produk-produk  kreatif yang bermakna dengan sendirinya akan timbul. Produk adalah hasil akhir dari pribadi + press + proses. Bu Dina yang memberikan kami kesempatan untuk menampilkan produk kami di depan seluruh audience kreativitas memberikan kami semangat yang menimbulkan ide-ide yang inovatif dan membuat kami berupaya mengoptimalkan diri dan keunikan kami masing-masing dan bekerja sama menghasilkan produk yang telah kami sepakati.

Kami menggunakan teori Rogers karena menurut kami teori-teori dapat mendeskripsikan unsur-unsur dasar dari kreativitas itu sendiri, yaitu dari pribadi individunya dan sesuai dengan konsep “unik” kreativitas itu sendiri.


Teori Rogers

Menurut Carl Rogers (1902-1987) tiga kondisi dari pribadi yang kreatif ialah:
a. Keterbukaan terhadap pengalaman
b. Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang
c. Kemampuan untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep

a. Karena keterbukaan dari anggota-anggota dalam kelompok, pengalaman yang dimiliki jadi beragam sehingga kami bisa bertukar ide dengan baik dan mendapat bayangan mengenai rancangan yang akan kami lakukan ke depannya.
b.  Kami mendiskusikan tentang kegiatan apa saja yang akan kami lakukan dan kemampuan kami masing-masing serta batasan-batasan yang kami miliki, dan menentukan peran masing-masing anggota kelompok agar bisa berperan optimal pada scene dalam list.
c. Setelah kami merancang program yang akan kami jalankan, kemudian kami mencoba untuk berpikir kreatif mengenai seperti apa proses yang akan kami jalani untuk membuat produk yang “lain dari yang lain”.


Proses Pengerjaan

1.      Setelah kelompok sepakat tentang ide untuk membuat video How Talented People Show Off Their Talent On Daily Routines, kemudian kami melakukan brainstorming dengan mengumpulkan ide-ide tentang bakat-bakat apa saja yang akan kami masukkan ke video dan adegan-adegan apa saja yang akan kami buat. Banyak sekali ide yang datang dari anggota kelompok yang kemudian kami tulis dan kami diskusikan lagi untuk menyaring kira-kira adegan apa saja yang menarik dan memungkinkan untuk kami buat.
2.      Setelah itu kami membuat semacam script untuk masing-masing adegan. Banyak sekali bakat-bakat yang muncul dibenak kami akan tetapi tidak semua bakat tersebut dapat kami lakukan. Maka dari itu, untuk beberapa adegan kami membuat semacam “trik” untuk membuat seakan-akan kami benar-benar mempunyai bakat tersebut. Proses di sini cukup menyenangkan karena kami dapat mengeluarkan ide-ide dari kepala kami untuk memikirkan trik-trik apa yang bisa kami pakai dan berdikusi lagi untuk mendapatkan kesepakatan. Untuk bakat-bakat tertentu yang tidak bisa kami lakukan sendiri dan tidak bisa dibuat triknya, kami meminta bantuan dari teman-teman lain yang benar-benar mempunyai bakat tersebut. Untuk adegan yang memerlukan banyak orang kami juga meminta meminta bantuan beberapa teman-teman lain.
3.      Adegan-adegan yang direkam lumayan banyak dan kami ambil dalam waktu dan hari yang berbeda-beda disesuaikan dengan kemampuan anggota kelompok. Selain itu, karena kami meminta bantuan dari beberapa orang kami harus membuat janji dulu dan menyesuaikan dengan waktu yang mereka luangkan untuk membantu kami mengambil adegan. Jadi rentang waktu mengambil adegan per adegan lumayan berjarak. Waktu yang kami butuhkan untuk merekam seluruh adegan kurang lebih dua bulan.
4.      Peralatan yang kami gunakan untuk mengambil adegan adalah kamera, tripod dan properti-properti pendukung adegan seperti laptop, tong sampah, raket nyamuk, sarung tangan softball, dsb.
5.      Lokasi yang kami gunakan sebagian besar di sekitaran area kampus dan beberapa adegan dilakukan di rumah salah satu anggota kelompok.
6.      Proses editing dilakukan setelah semua rekaman adegan terkumpul. Proses editing dilakukan kurang lebih dua minggu hingga menjadi sebuah produk video berjudul How Talented People Show Off Their Talent On Daily Routine.


Kendala Ketika Proses Pembuatan Video:

1.      Karena kami meminta beberapa teman untuk membantu kami tampil di video ini, kami harus menyesuaikan waktu kami dengan waktu yang mereka berikan. Jadi tidak jarang kami harus kalang kabut dan bahkan sampai harus menunggu teman yang bersangkutan agar dapat mengambil adegan di waktu yang sudah kami sepakati.
2.      Karena ini pertama kalinya anggota kelompok membuat video seperti ini, banyak sekali adegan-adegan yang harus diulang-ulang karena kami masih kaku di depan kamera.
3.      Karena pengambilan adegan terkadang membutuhkan waktu yang lumayan lama, masalah baterai kamera juga cukup menjadi kendala.
4.      Sekali lagi karena ini pertama kalinya kami membuat video seperti ini, proses editing juga memakan banyak usaha mulai dari pemotongan video dan merekam suara yang kami ulang-ulang agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Rabu, 26 November 2014

Karikatur Tokoh Psikologi (Pavlov & Skinner)

Assalamualaikum wr.wb


Salah satu tugas di kelas kreativitas yang saya ambil di semester 7 ini adalah membuat 'masterpiece' yaitu karya yang dibuat secara individu. Pertama kali yang terpikir di kepala saya adalah saya ingin membuat karya yang berhubungan dengan menggambar karena saya suka menggambar. Akan tetapi saya masih bingung mau menggambar apa dan bagaimana caranya supaya hasilnya unik dan tidak biasa. Awalnya saya kepikiran untuk membuat gambar tokoh psikologi. Kemudian, saya berpikir lagi. Kalau saya hanya menggambar tokoh psikologi saja pasti sudah biasa. Yang muncul di benak saya waktu itu adalah Pavlov dan Skinner yang masing-masing penelitian mereka melibatkan hewan. Pavlov dengan anjing dan Skinner dengan tikus. Lalu saya memutuskan menggambar tokoh-tokoh psikologi ini beserta hewan yang identik dengan penelitian mereka dalam bentuk karikatur. Berikut sedikit foto dari proses pengerjaannya:

Pavlov


 


Skinner

Untuk gambar Skinner karena keasyikan menggambar saya jadi lupa mengambil foto hehe. Jadi foto yang saya ambil cuma dua.



Setelah gambar selesai dibuat, gambar-gambar tersebut saya scan agar lebih jelas dan enak dilihat. Hasil akhirnya seperti ini:



Demikian hasil karya saya. Semoga suka dan menginspirasi :)

Jumat, 24 Oktober 2014

Konsep Peforma Kreativitas Kelompok 7


Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir mata kuliah Kreativitas, kami dari kelompok 7 (tujuh) ingin menampilkan sesuatu yang mungkin bisa menghibur dan sama-sama kita nikmati. Ide ini muncul karena maraknya internet sekarang ini, sehingga orang-orang dengan mudah berbagi dan memperlihatkan karyanya kepada orang banyak.
Kami memaparkan rancangan kami dengan mengaitkannya kepada teori 4P. Awalnya, masing-masing dari kami mempunyai ide yang berbeda-beda, ini karena masing-masing kami mempunyai bakat dan interest yang berbeda-beda. Kami ingin membuat karya berupa seni rupa, lalu sebuah karya yang hasilnya bisa dipakai atau digunakan. Namun karena memikirkan bagaimana proses membuat karyanya serta peran dari masing-masing individu, kami memikirkan sesuatu yang kiranya mungkin kami ciptakan bersama. Lalu muncul ide tentang membuat sebuah video yang bisa memperlihatkan kreativitas dan menghibur. Menurut kami, membuat video ini mungkin dilaksanakan karena dorongan dari dalam diri kami dan lingkungan yang sepertinya mendukung. Selain itu, kami ingin menampilkan sesuatu yang berbeda, yang mana kami semua menampilkan diri kami dan memperlihatkan perilaku kreatif, serta bebas berekspresi. Kami mendiskusikan tema dari video yang kami buat, lalu kami sepakat video ini berisi tentang bakat, berhubung dengan ini adalah tugas mata kuliah Kreativitas. Lalu kami bergerak ke bagaimana isi video ini, bagaimana kami akan membuatnya dan bagaimana video ini akan dapat menghibur. Akhirnya kami mendapatkan sebuah konsep mengenai produk yang akan kami hasilkan.

Judul                           : How Talented People Show Off Their Talent On Daily Routines
Alat dan Bahan           : Kamera dan Laptop
Setting                        : Random
Konsep                      : Kami akan menampilkan sebuah video berdurasi sekitar tiga sampai lima menit (atau lebih) mengenai orang yang melakukan aktivitas sehari-hari lalu membandingkannya dengan orang yang ‘pamer’ bakatnya dalam melakukan aktivitas sehari-hari juga. Adapun pemeran dalam video ini adalah kami sendiri dan mungkin akan dibantu oleh beberapa orang di luar anggota kelompok, sebagai figuran. Kami akan memakai beberapa setting lokasi untuk pengambilan gambar. Adapun mulai dari pengambilan gambar sampai sampai dengan editing video akan dilakukan oleh kami sendiri.

Demikian kami paparkan konsep tugas akhir mata kuliah Kreativitas kami, semoga membantu teman-teman mendapat gambaran akan hasil produk kami nanti.

Sabtu, 14 Desember 2013

Laporan Hasil Kunjungan SMK Tritech Medan

Laporan Hasil Kunjungan SMK Tritech Medan



BAB I

Pendahuluan


A.    Latar Belakang Sekolah

Profil Sekolah
Nama Sekolah             : SMK Tritech Informatika Medan
Alamat Sekolah           : Jl. Bhayangkara No. 522 CDE, Medan
Provinsi                      : Sumatera Utara
Status Sekolah            : Swasta
 
Visi dan Misi Sekolah
Visi Sekolah:

  • Menjadikan SMK berbasis teknologi Informatika yang Unggul, Mandiri, Religius dan Berstandar Internasional
Misi Sekolah:

  • Siswa/i mampu menguasai komputer software dan hardware serta  jaringan IT
  • Melahirkan generasi yang handal dalam bidang IPTEK, IMTAQ dan berjiwa kebangsaan

B.     Data Observer

Semua observer melakukan observasi pada kelas pagi, di kelas X TEX 2.
Nama   : Mentari Purba
NIM    : 111301028


Nama   : Cynthia Halim
 

NIM    : 111301044


Nama   : Priscilla Simanjuntak
 

NIM    : 111301096


Nama   : Agnes Crista
 

NIM    : 111301124


Nama   : Eva Brahmana
 

NIM    : 111301126


C.    Kondisi Fisik Kelas

Kelas dicat dengan dua warna, yaitu warna hijau dan warna kuning. Setiap siswa/i masing-masing memiliki meja dan kursi sendiri. Daftar perangkat kelas digantung di dinding. Kelas memiliki CCTV di bagian atas sudut pintu. Fasilitas penunjang lain yang dimiliki kelas adalah sebagai berikut:
-   AC (air conditioner)      : 1 buah
-   Kipas angin                   : 1 buah
-   Whiteboard                   : 1 buah
-   Lampu neon                  : 4 buah
-   Televisi                         : 1 buah
-   Pengharum ruangan       : 1 buah
-   Sapu                              : 1 buah
-   Serokan sampah             : 1 buah


D.    Hasil Observasi

Observasi dilakukan pada hari Senin tanggal 18 November 2013 pada pukul 08.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB, kami melakukan observasi di SMK TRITECH, tepatnya di kelas X TEX 2. Adapun hasil observasi kami:


a.  Suasana Kelas

Pada saat kami memasuki kelas dan memperkenalkan diri,  siswa yang berada di kelas mulai berbincang-bincang dan menanyakan berbagai pertanyaan kepada kami. Guru yang berada di kelas menenangkan mereka, setelah itu kami dipersilahkan duduk di bangku kelas paling belakang, kemudian guru tersebut kembali menerangkan materi pelajaran sebelumnya. Di dalam kelas tersebut, ada beberapa siswa saling berbincang dengan teman sebangkunya, dan ada juga yang memainkan program di laptop saat gurunya menjelaskan materi pelajaran. Setelah guru tersebut selesai menjelaskan materi, mereka diberikan tugas membuat suatu produk, dan tugasnya dikerjakan secara berkelompok. Beberapa siswa langsung mengerjakan tugas tersebut dengan temannya, tetapi ada juga yang tidak karena masih menentukan teman sekelompoknya. Saat para siswa mengerjakan tugas, guru sesekali berjalan mengitari kelas, dan menjelaskan kembali maksud tugas kepada siswa yang bertanya. Pada saat mereka mengerjakan tugas tersebut, ada beberapa siswa yang berjalan-jalan di dalam kelas dan menganggu temannya yang mengerjakan tugas, guru membiarkan tindakan siswanya tersebut dan tetap menjelaskan tugas pada salah satu siswanya. Kemudian bel tanda pergantian jadwal mata pelajaran berbunyi, beberapa siswa di dalam kelas mulai ribut dan berhenti mengerjakan tugas yang diberikan gurunya, ada satu siswa yang mulai mengedit foto di laptop, dan ada juga yang mengerjakan tugas yang lain.



b. Media pembelajaran yang digunakan siswa
Saat proses belajar, siswa menggunakan laptop, dan ada yang mencatat materi yang diajarkan di buku tulis. Siswa juga mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan menggunakan laptop, meskipun ada fasilitas wi-fi, siswa tidak menggunakannya.


c. Media pembelajaran yang digunakan guru
Guru mengajar di kelas menggunakan laptop dan menjelaskan materi dalam bentuk slide power point yang ditampilkan pada televisi yang berada di depan kelas, tepatnya di atas whiteboard. Guru juga mengajar menggunakan buku panduan, kemudian menggunakan spidol untuk menuliskan contoh tugas di whiteboard.





  

BAB II
Teori dan Pembahasan




A.    Teori Pemrosesan Informasi


Teori pemrosesan informasi membahas langkah-langkah dasar individu yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan, dan mengingat informasi. Komponen esensial dari belajar adalah pengorganisasian informasi yang dipelajari, pengetahuan sebelumnya yang sudah dikuasai pemelajar, dan proses yang melibatikan pemahaman, pengertian, serta menyimpan dan mengambil kembali informasi. Dua asumsi pokok yang mendukung riset pemrosesan informasi adalah:

(1) Sistem memori adalah pengolah informasi yang aktif dan terorganisasi

(2) Pengetahuan sebelumnya berperan penting dalam belajar

     Metode pembelajaran yang digunakan di kelas X TEX 2 mengacu pada teori pemrosesan informasi dalam perspektif kognitif dan metakognisi dan pemecahan masalah. Pada teori pemrosesan informasi membahas langkah-langkah dasar individu yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan, dan mengingat informasi. Awalnya guru memberikan materi kewirausahaan yang ditampilkan dalam bentuk slide power point pada layar, kemudian para siswa mendapatkan informasi melalui indra dan kemudian mengkodekannya sesuai dengan interpretasi makna masing-masing agar dapat mengerjakan tugas.


B.     Teori Peran Perhatian


Pemrosesan informasi yang datang membutuhkan perhatian selektif terhadap kejadian, objek, simbol, dan stimuli tertentu lainnya agar informasi itu dapat dipelajari. Ketika perincian gamblang teks mengganggu perhatian pemelajar, generalisasi penting dalam materi mungkin luput dari perhatian. Perhatian pemelajar bisa dideskripsikan sebagai “manajer garis depan” yang penting dalam menentukan informasi yang akan diberikan untuk pemrosesan lebih lanjut.

            Ketika materi pelajaran diberikan oleh guru, ada yang memperhatikan dengan baik, dan ada yang berbincang-bincang dengan temannya, dan ketika guru memberikan tugas dan menyuruh para siswa untuk membentuk kelompok, ada yang langsung membentuk kelompok, dan ada siswa yang masih duduk di tempat dan tidak membentuk kelompok. Ketika materi diberikan oleh guru, maka perhatian dan konsentrasi dari siswa akan menentukan bagaimana dia mempersepsikan tugas tersebut dan menentukan tindakan yang akan siswa lakukan selanjutnya. Pada siswa di kelas X TEX 2, siswa yang memperhatikan guru saat mengajarkan materi dengan baik, maka perhatiannya akan terfokus pada tugas dan kemudian mengerjakannya sesuai dengan instruksi tugas yang diberikan. Sedangkan bagi siswa yang berbincang-bincang ketika proses belajar dan tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar, perhatiannya akan luput dari tugas sehingga saat tugas diberikan, siswa tersebut santai dan tidak langsung mengerjakan tugas dan instruksi yang diberikan.


C.    Teori Metakognisi dan Pemecahan Masalah


Secara umum, metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir tentang pemikiran. Beberapa perspektif menekankan pengetahuan individual tentang kognisi dan penggunaan strategi. Komponen utama dari metakognisi adalah:

(1) pengetahuan dan kesadaran tentang pemikiran diri sendiri,

(2) pengetahuan tentang kapan dan di mana mesti menggunakkan strategi yang

     diperoleh

Pengetahuan tentang pemikiran seseorang mencakup informasi tentang kapasitas dan keterbatasan dirinya sendiri dan kesadaran akan kesulitan selama belajar sehingga dapat dilakukan perbaikan.

Model aktivitas meta kognitif dalam belajar terdiri dari 4 tahap, yaitu pendefinisian tugas, penentuan tujuan dan perencanaan, melakukan taktik dan strategi studi, dan mengadaptasi studi. Jika tugas studi sama, tahapannya bisa dilompati.

Masing-masing tahap menghasilkan suatu produk yang dievaluasi pemelajar (aktivitas kognitif) dan memutakhirkan kondisi tindakan untuk tahap selanjutnya. Persepsi siswa terhadap tugas belajar, misalnya adalah basis untuk penentuan dan tujuan di tahap kedua. Standar personal siswa juga memengaruhi tindakan di setiap tahap. Waktu yang tersedia untuk belajar juga memegaruhi keputusan siswa.

            Pada saat guru memberikan tugas, siswa/i kelas X TEX 2 ada yang tampak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, dan ada juga yang mengerjakan tugas dengan seadanya, bahkan membuka program yang tidak berhubungan dengan tugas. Hal ini terjadi karena pada saat para siswa diberikan tugas, mereka akan melakukan tahap-tahap model aktivitas metakognitif. Saat diberikan tugas, siswa akan mendefinisikan tugas, yaitu memunculkan persepsi tugas tersebut. Pada awalnya guru memberikan tugas untuk membuat produk minuman kemasan yang dapat menarik banyak konsumen, setelah itu siswa mengetahui tujuan dari tugas yang diberikan kemudian mereka mulai menyusun rencana bagaimana membuat suatu produk kemasan yang dapat menarik perhatian konsumen. Pada tahap model aktivitas kognitif yang pertama, para siswa akan mempersepsikan sifat dari tugas tersebut. Kemudian pada tahap kedua siswa akan memilih cara untuk menangani tugas tersebut, mereka akan memikirkan apa yang akan harus dilakukan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Bagi siswa yang mempersepsikan tugas tersebut penting akan berencana mengerjakan tugas tersebut dengan baik, salah satu caranya dengan berdiskusi dengan guru tentang tugas, atau menanyakan bagian tugas yang tidak dipahami. Sedangkan siswa yang mempersepsikan tugasnya sebagai tugas biasa, akan berencana untuk mengerjakan tugas dengan seadanya, sesuai instruksi yang sudah ada. Kemudian pada tahap tiga, para siswa melakukan strategi yang mereka rencanakan pada tahap kedua. Dan dalam tahap tiga, siswa mempersepsikan tugas dengan biasa-biasa saja, akan beranggapan tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan tugas, akan mengabaikan tugas tersebut, dan melakukan hal yang dia persepsikan lebih penting, pada salah satu siswa di kelas X TEX 2, ada yang langsung membuka program untuk mengedit foto, padahal teman sekelompoknya masih mengerjakan tugas. Dan pada tahap yang keempat, mereka akan mengadaptasi hasil tugas mereka, apakah mereka sudah puas dengan usaha dan hasil dari tugas yang mereka kerjakan, atau masih tidak puas dan akan melakukan perubahan pada tugas-tugas lainnya nanti.





BAB III
Kesimpulan dan Saran




Berdasarkan hasil observasi dan analisa berdasarkan teori, kelompok dapat menyimpulkan dan memiliki saran sebagai berikut:


A.    Kesimpulan


Sistem pembelajaran modern yang dilakukan oleh SMK Tritech telah berhasil diterapkan dengan cukup baik oleh para guru dan siswa. Penggunaan media pembelajaran seperti laptop dan televisi, memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran baik kepada siswa, dan kepada guru. Fasilitas di dalam kelas cukup lengkap untuk mendukung proses pembelajaran. Saat proses belajar, metode pengajaran berupa diskusi yang dilakukan guru membuat para siswa di dalam kelas tidak merasa tegang, sehingga siswa tidak takut memberikan pendapat.

B.     Saran


Ruangan kelas sebaiknya diperluas agar bisa memaksimalkan proses belajar sehingga kelas tidak terkesan penuh dan sempit. Kelas yang luas dapat menambah kenyamanan siswa saat melakukan proses belajar. Sehingga siswa dapat fokus dengan proses belajar dan tidak mudah terdistraksi dengan hal-hal lain. Guru yang mengajar juga sebaiknya bisa lebih mengontrol kondisi kelas agar siswa tetap fokus dengan pelajaran.






Daftar Pustaka

Gredler, M. E. (2011). Learning and instruction. Teori dan Aplikasi: edisi keenam. Jakarta: Kencana.


Lampiran
Foto



Senin, 28 Oktober 2013

Testimoni UTS Psikologi Belajar




 Alhamdulillah, UTS mata kuliah Psikologi Belajar selesai juga. Ujian kali ini berbeda dengan ujian-ujian lainnya. Ujian dilaksanakan dengan sistem online selama 3 hari. Soal dan jawaban dikirimkan via online, walau begitu ujiannya tetap membuat deg-degan dan kocar-kacir juga.

Dikaitkan dengan teori John Watson tentang studi perilaku bahwa semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respons-respons tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu.
 
Stimuli di sini adalah UTS Psikologi Belajar itu sendiri, sedangkan respons adalah bagaimana mahasiswa merespons (menjawab) soal-soal UTS yang Ibu berikan. Dan respons-respons yang diberikan pun berbeda-beda antar tiap mahasiswa.
 
Saya sendiri merespons stimuli (UTS) pada awalnya sedikit bersantai. Saya mulai menjawab soal pertama pada hari Jumat. Lalu setelah itu saya mulai mendapat tekanan dari berbagai sisi seperti teman-teman yang sudah banyak selesai atau hampir selesai, dan teguran dari Ibu Dina yang membuat respons saya menjadi lebih meningkat. Dan saya menjadi lebih berusaha lebih baik lagi dalam menjawab soal-soal sesegera mungkin dan sebaik mungkin.
 
Ujian seperti ini mengajarkan saya untuk lebih dapat memanajemen waktu dan mengajarkan saya bahwa di jaman dimana teknologi sudah berkembang pesat kita tidak hanya dapat mengerjakan ujian secara konvensional seperti di kelas tapi juga dapat dilakukan dengan teknologi internet seperti ini.

Thankyou!!!


Jumat, 04 Oktober 2013

BAB 10 KOGNITIF SOSIAL BANDURA

BAB 10 KOGNITIF SOSIAL BANDURA

PRINSIP BELAJAR

Teori kognitif-sosial Albert Bandura berusaha menjelaskan belajar dalam latar naturalistik. Berbeda dengan latar laboratorium, lingkungan sosial memberi banyak kesempatan bagi individu untuk mendapatkan keterampilan dan kemampuan yang kompleks melalui observasi perilaku model dan konsekuensi behavioral.

Asumsi Teori Belajar Kognitif-Sosial

  1. Pemelajar dapat (a) mengabstraksi informasi dari pengamatan terhadap orang lain, dan (b) membuat keputusan tentang perilaku yang akan dijalankan.
  2. Tiga cara relasi yang saling terkait antara perilaku (B), lingkungan  (E) dan kejadian personal internal (P) akan menjelaskan belajar.
  3.  Belajar adalah akuisisi representasi simbolis dalam bentuk kode verbal atau visual.

Komponen Belajar


Dalam latar naturalistik, individu mempelajari perilaku baru melalui observasi atau model serta akibat dari tindakannya.

  1. Model Kelakuan
  • Model nyata antara lain adalah anggota keluarga, kawan, rekan kerja, dan orang lain yang berhubungan langsung dengan individu.
  • Model simbolik sebaliknya adalah gambaran representasi perilaku, seperti televisi dna film yang menggambarkan lingkungan dan situasi dimana anak, remaja, atau orang dewasa tidak berhubungan langsung dengan situasi itu.


  1.  Konsekuensi dari perilaku yang dicontohkan
  • Penguatan pengganti (vicarious reinforcement). Perilaku model harus menghasilkan penguatan untuk perilaku tertentu, dan reaksi emosional positif harus terbangkitkan pada diri pengamat.
  • Penguatan langsung adalah hasil langsung yang dimunculkan oleh perilaku imitiatif selanjutnya dari pengamat.
  • Penguatan yang diatur sendiri oleh pengamat untuk perilaku imitiatifnya.

  1. Proses Internal Pemelajar
Proses  kognitif  berperan penting dalam belajar. Kemauan pemelajar untuk mengkodekan dan menyimpan pengalaman fana ke dalam bentuk simbolik. Dan untuk mempresentasikan konsekuesi masa depan dalam pikiran merupakan hal yang penting untuk perolehan dan perubahan perilaku manusia. Pemprosesan kognitif terhadap peristiwa dan konsekuensi potensial menjadi pedoman perilaku pemelajar. Ada empat komponen yang bertanggung jawab pada proses belajar dan kinerja, yaitu proses atensi, retensi, produksi motorik, dan proses motivasi.


     4.      Self efficacy

Konstruk yang disebut ketangguhan diri (self-efficacy) adalah keyakinan seseorang tentang kemampuannya sendiri dan keyakinan ini memotivasi pemelajar dengan cara tetentu. Keyakinan ketangguhan diri (self efficacy) adalah keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk mengorganisasikan dan melaksanaka tindakan yang diperlukan untuk mendapatkan pencapaian tertentu.